Postingan

Separuh

Aku melangkah pergi. Lalu, kau menahan tanganku. "Mau kemana?" tanyamu. "Aku harus terus maju." jawabku sambil berusaha tak menatap kedua mata indahmu. "Kau yakin?" tanyamu lagi. "Aku yakin." masih memalingkan mataku. "Ya sudah, berhati-hatilah, apa ada yang tertinggal?" kau memastikan. "Kurasa ada." "Apa?" "Separuh hatiku yang kau curi."

Gomen ne

40km/jam. Senja bergerimis lembut hari ini. Menerpa wajah, seperti usapan lembut, Lembut, namun dingin, membeku. Seperti kata-katamu tadi kawan, Pujian, terdengar indah ditelinga. Tapi terasa sekali seperti tamparan panas di ulu hati. Maaf, aku sadar belum waktunya aku melangkah sejauh ini.

Wajahmu

Kau tau Ra,  semalam bintang gemintang lenyap.  Mereka berpindah ke wajahmu. ~

Runtuh

Masih di 40km/jam. Senja kemerahaan ketika aku mulai melangkah keluar. Dan berubah kelabu saat tiba di 1/2 perjalanan. Angin semakin kencang, menggoyahkan laju ku. Dan tibalah hujan, meluruhkan semua keyakinanku. Lalu aku tiba dengan kekosongan. Aku tak mampu mengelak.  Relakan...... ~ #03 April 2013

Spion Waktu

Kecepatan 40km/jam. Aku berusaha keras untuk tidak melirik spion. Tapi aku tidak pernah bisa, mataku selalu reflek melakukannya. Entah mengapa aku selalu berharap kau masih ada disana dan mengawasiku dari belakang ketika aku melaju. Dan menolongku jika terjadi sesuatu dalam perjalananku. Aku takut jikalau kau akhirnya memilih jalur lain. Aku tidak siap. Karena yang aku tau, selama ini kau yang selalu menjagaku, meski kita sudah lama tak melaju beriringan. #05 April 2013

Intermezzo

Kehidupan itu mungkin seperti timbangan yang tak pernah seimbang. Saat satu lengan lebih berat, lengan yang lainnya akan jadi lebih ringan. Saat satu lengan lebih rendah, lengan lainnya akan jadi lebih tinggi. Tapi tentu kita punya pilihan untuk menyeimbangkannya. Dan kalau kita bisa. Kenapa tidak?

Maukah?

Maukah kau menjadi bahu yang kusandarkan disana ribuan tangis. Maukah kau menjadi lengan yang kuhamburkan disana pilu yang kian beku. Maukah kau menjadi mata yang kuhujamkan disana kerinduan. Maukah kau menjadi seutuhnya dirimu yang kulabuhkan disana kasih yang kupunya?

Pulang

Ah, baiklah. Kelihatannya sudah saatnya tubuh yang belum tua ini mengundurkan diri. Oh, bukan, lebih tepatnya mengalah. Memberikan tempat untuk orang lain. Meskipun jiwa ini masih meluap-luap. Ingin merasakan manisnya menjadi tua. Perlahan. Hitungan mundur, kumulai dari sekarang. Benarkah ini saatnya?

Kelingking

Sore itu, Ketika dua jari kelingking saling bertaut. Jendela-jendela terbuka menatap padang ilalang sunyi, yang mendadak riuh akan 1000 kunang-kunang. Mengajak 2 tubuh menari-nari diantara hembusan angin. Bahagia, itukah yang mereka rasakan kala itu?

Rinai

Dengarlah, Rinai-rinai hujan, mereka mengetuki jendelamu yang usang dan berdebu. Aku Merindukanmu. Seperti rinai hujan menari-nari di kaca jendelamu.

Adalah Dikau

Salahkah aku? Bahwa lengkungan bibirmu itu adalah jelamaan sejuta kebahagiaan pelangi. Bahwa cahaya itu adalah ribuan kerlap kerlip bintang yang terpancar melalui retina dan menembus lensa matamu. Bahwa setiap klausa yang kau rangkai adalah narkoba yang membuatku sakau saat tanpamu.

Untuk Seseorang

OK, aku beritahu kau! Aku suka Jalan pikiranmu. Aku suka kepekaanmu. Tapi, AKU BENCI perasaanmu yang kekanak-kanakan! Aku benci egomu yang keterlaluan! Aku benci! Aku benci Ekspresimu! Aku benci matamu ketika kau menatapku dan bicara padaku! Kau tau? KAU begitu MENYEBALKAN akhir-akhir ini! Kenapa semua itu malah membuat egomu semakin besar? Kapan kau akan lebih BIJAK? Kapan kau mau mencoba untuk melihat dari sudut pandang orang lain? KAPAN?

Choices?

Bukankah pilihan-pilihan ini amat mengerikan? Semua orang tau, ada 1 dari 1000 pilihan yang tepat. Namun, siapa yang tau di mana yang 1 itu? Apakah ada dalam tumpukan jerami? Dalam deru derai ombak? Di antara kilauan berlian? Who knows?

Dia? Kakakku????

Dia? Dia yang kalian (kalian serta mereka paksakan aku juga) sebut dia KAKAK???? Apa-apaan dia itu?? Kakak macam apaaa?? Dia itu jahat! Bodoh! Konyol! Dia terlihat senang saat mempermainkanku? Pantaskah aku sebut dia kakak? Jih!!! Aku muak! Muak sekali dengan wajahnya!  Dia itu..... Aku lebih suka menyebutnya SETAN!! Aku tak peduli jika kalian marah padaku! Aku TIDAK PEDULI! Karena kalian tau. AKU INI JUGA MANUSIA!!! Kalau dia memang memperlakukanku seperti itu. Maka beginilah responku! Terserah tujuan dia baik atau tidak! Yang jelas aku benci PERLAKUANNYA padaku selama ini!!! AKU MUAK!!!!!!!

Kaeritakunatta yo :')

Aku lelah. Lelah, sangat, amat. Aku merindukan rumah. Perjalanan ini terasa terlalu panjang dan melelahkan Terlalu banyak hal-hal memuakkan. Aku ingin pulang ke rumah. Rumah dimana kau menunggu Rumah dimana kau adalah orang pertama yang aku lihat saat aku tiba. Kau ada disana dan melebarkan lengan-lenganmu. Menyambutku. Menyediakan tempat untuk aku menghamburkan tangis bahagia Dalam pelukanmu......

A Secret Admirer

Aku masih berusaha mengikuti ketidakjelasan instingku untuk selalu membuntuti bayangmu.  Meski itu berati aku harus bersembunyi dalam keremangan, bertransformasi menjadi debu dan bergabung dengan kabut abu2 samar yang terlihat suram.  Berusaha agar tak tertangkap basah olehmu. Dan aku harap aku tetap aman untuk menguntitmu seperti ini sampai kau benar2 jauh dan tak terjangkau oleh pandanganku, atau sampai sampai angin2 meniupku shg aku benar2 jauh darimu. Rasanya konyol memang, mengikuti insting yang jelas tidak bertujuan itu.  Jadi, biarlah aku - maksudku - ijinkan aku untuk tetap berdiri disini, memandangmu dengan rasa kagum yang tak ada habisnya, dan menikmati keindahanmu. Meski kau tak kan pernah tau.  Tapi statemen itu berhsil tersingkir ketika ada kebahagiaan tersendiri saat aku melihat semua gerak-gerikmu. Entah kebahagiaan macam apa ini yang bisa muncul hanya karena melihatmu dari dalam keremangan. Pernah terfikir olehku untuk benar-benar muncul di...

Mantra

Bahkan, untuk sekedar menatap wajahnya pun aku tak berani. Pernah, ku coba menatap langsung wajah bundarnya itu, tampak sesimpul senyum sederhana melengkung indah di bibirnya. Dan yang terjadi, pipiku merah, lidahku kaku, ternggorokannku kering serasa tercekat, tubuhku terasa ringan, seakan angin mampu menerbangkan aku tinggi bersama awan-awan. Aku penasaran bagaimana dia bisa begitu magis. Mantra apa yang slalu ia ucap sehingga mampu melumpuhkan aku hanya dengan sesimpul senyum itu?

Siklus

Samudra, Ku larung lara ini. Berharap debur ombak memecahnya Mentranformasikannya, menjadi jutaan sajak sendu lautan. Matahari, Uapkan sajak-sajak sendu itu. Bawa mereka membumbung tinggi Berkumpul bersama awan-awan hitam kelam. Angin, Tiupkan amukanmu, Hempaskan awan-awan itu Lempar mereka ke atas daratan menabur seribu kegelisahan. Hujan, Tetes-tetes awan sendu berjatuhan, Mengetuk jendela-jendela kaca, Jendela-jendela kamar yang tak pernah tebuka. Kau! Lihatlah! Dengarlah! Tidakkah kau sadar? Laraku, dukaku yang kian pilu, Luruh, menetes sendu di kaca-kaca jendelamu! Makin deras, dan lebih deras lagi! Tapi, pernahkah sedikit saja kau peduli? TIDAK!

Kenapa....

Kau selalu memintaku untuk mengerti dirimu... Kau selalu memintaku untuk memahami dirimu... Kau selalu memintaku untuk menghargai dirimu... Dan kau pun selalu memintaku untuk menghormatimu... Tapi, apakah kau yakin kau sudah mengerti diriku? Apakah kau yakin kau sudah memahami diriku? Apakah kau yakin kau sudah menghargai diriku? Dan apakah kau juga sudah menghormati diriku? Mengapa kau begitu egois? Kenapa kau tak pernah mau tau tentang keadaanku? Kenapa kau tak pernah memaklumi keadaanku dan latar belakangku? Tak taukah kau aku menderita...?? Kenapa kau selalu memaksakan aku untuk mengikuti semua keinginanmu dan membuat diriku menjadi orang lain? Aku bahkan sampai tak mengenal siapa diriku sekarang...!! Kau tak pernah menghiraukan aspirasi dan keinginanku. Begitukah caramu menghargai dan menghormati diriku? Kau selalu bertanya padaku 'aku anggap kau apa' dengan expresi menangis, saat aku tak penuhi keinginanmu... Tapi, Kau sendiri menganggap aku ini apa?? Apak...

Gelap

Selamanya? Agaknya kata itu terlalu abu-abu untuk keadaan kita yang sekarang ini Tidakkah kau lihat, cahaya di ujung lorong gelap yang kita lalui sudah mulai meredup? Ku kira kita tak akan sanggup bertahan hanya dengan cahaya semu yang mulai meredup itu Ku kira kita akan mulai mengakhiri perjalanan sampai di sini..