Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2013

Intermezzo

Kehidupan itu mungkin seperti timbangan yang tak pernah seimbang. Saat satu lengan lebih berat, lengan yang lainnya akan jadi lebih ringan. Saat satu lengan lebih rendah, lengan lainnya akan jadi lebih tinggi. Tapi tentu kita punya pilihan untuk menyeimbangkannya. Dan kalau kita bisa. Kenapa tidak?

Maukah?

Maukah kau menjadi bahu yang kusandarkan disana ribuan tangis. Maukah kau menjadi lengan yang kuhamburkan disana pilu yang kian beku. Maukah kau menjadi mata yang kuhujamkan disana kerinduan. Maukah kau menjadi seutuhnya dirimu yang kulabuhkan disana kasih yang kupunya?

Pulang

Ah, baiklah. Kelihatannya sudah saatnya tubuh yang belum tua ini mengundurkan diri. Oh, bukan, lebih tepatnya mengalah. Memberikan tempat untuk orang lain. Meskipun jiwa ini masih meluap-luap. Ingin merasakan manisnya menjadi tua. Perlahan. Hitungan mundur, kumulai dari sekarang. Benarkah ini saatnya?

Kelingking

Sore itu, Ketika dua jari kelingking saling bertaut. Jendela-jendela terbuka menatap padang ilalang sunyi, yang mendadak riuh akan 1000 kunang-kunang. Mengajak 2 tubuh menari-nari diantara hembusan angin. Bahagia, itukah yang mereka rasakan kala itu?

Rinai

Dengarlah, Rinai-rinai hujan, mereka mengetuki jendelamu yang usang dan berdebu. Aku Merindukanmu. Seperti rinai hujan menari-nari di kaca jendelamu.

Adalah Dikau

Salahkah aku? Bahwa lengkungan bibirmu itu adalah jelamaan sejuta kebahagiaan pelangi. Bahwa cahaya itu adalah ribuan kerlap kerlip bintang yang terpancar melalui retina dan menembus lensa matamu. Bahwa setiap klausa yang kau rangkai adalah narkoba yang membuatku sakau saat tanpamu.