Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2012

A Secret Admirer

Aku masih berusaha mengikuti ketidakjelasan instingku untuk selalu membuntuti bayangmu.  Meski itu berati aku harus bersembunyi dalam keremangan, bertransformasi menjadi debu dan bergabung dengan kabut abu2 samar yang terlihat suram.  Berusaha agar tak tertangkap basah olehmu. Dan aku harap aku tetap aman untuk menguntitmu seperti ini sampai kau benar2 jauh dan tak terjangkau oleh pandanganku, atau sampai sampai angin2 meniupku shg aku benar2 jauh darimu. Rasanya konyol memang, mengikuti insting yang jelas tidak bertujuan itu.  Jadi, biarlah aku - maksudku - ijinkan aku untuk tetap berdiri disini, memandangmu dengan rasa kagum yang tak ada habisnya, dan menikmati keindahanmu. Meski kau tak kan pernah tau.  Tapi statemen itu berhsil tersingkir ketika ada kebahagiaan tersendiri saat aku melihat semua gerak-gerikmu. Entah kebahagiaan macam apa ini yang bisa muncul hanya karena melihatmu dari dalam keremangan. Pernah terfikir olehku untuk benar-benar muncul di...

Mantra

Bahkan, untuk sekedar menatap wajahnya pun aku tak berani. Pernah, ku coba menatap langsung wajah bundarnya itu, tampak sesimpul senyum sederhana melengkung indah di bibirnya. Dan yang terjadi, pipiku merah, lidahku kaku, ternggorokannku kering serasa tercekat, tubuhku terasa ringan, seakan angin mampu menerbangkan aku tinggi bersama awan-awan. Aku penasaran bagaimana dia bisa begitu magis. Mantra apa yang slalu ia ucap sehingga mampu melumpuhkan aku hanya dengan sesimpul senyum itu?

Siklus

Samudra, Ku larung lara ini. Berharap debur ombak memecahnya Mentranformasikannya, menjadi jutaan sajak sendu lautan. Matahari, Uapkan sajak-sajak sendu itu. Bawa mereka membumbung tinggi Berkumpul bersama awan-awan hitam kelam. Angin, Tiupkan amukanmu, Hempaskan awan-awan itu Lempar mereka ke atas daratan menabur seribu kegelisahan. Hujan, Tetes-tetes awan sendu berjatuhan, Mengetuk jendela-jendela kaca, Jendela-jendela kamar yang tak pernah tebuka. Kau! Lihatlah! Dengarlah! Tidakkah kau sadar? Laraku, dukaku yang kian pilu, Luruh, menetes sendu di kaca-kaca jendelamu! Makin deras, dan lebih deras lagi! Tapi, pernahkah sedikit saja kau peduli? TIDAK!