Someday In The Lake

Hari minggu itu aku akan pergi ke sebuah danau yang ada di dataran tinggi di kotaku. kali ini aku bersama seseorang. Aku menunggunya menjemputku. Tak berapa lama kemudian dia muncul dengan motornya. Lalu ia mempersilahkan aku naik ke motornya. Ia melajukan motornya kencang sekali. Aku hanya bepegangan pada pahaku sendiri, sengaja tidak berpegangan di pingganya karena aku tak suka seperti itu.

Saat sudah sampai di tengah perjalanan. Terlihat pemandangan khas dataran tinggi, pohon, bukit, langit yang saat itu sedang cerah dan lain-lainnya. Dia bertanya padaku, "Indah sekali bukan?". Aku hanya menjawab, "Iya.". Dia bertanya lagi, "Kau suka?". "Ya begitulah.." jawabku.



Setibanya di danau, kami memilih tempat untuk duduk. Dia memilih tempat di tepi danau, dibawah pohon, yang dibawahnya ada bangku duduk. Aku hanya menurut saja pada pilihannya. Berdua kami duduk di bangku itu dalam diam. Tanpa satu patah kata pun. Kami sama-sama tak tau akan membicarakan apa.Aku duduk di sebelah kanannya. Aku segaja meletakkan helm di antara kami, untuk membuat jarak. Kami hanya duduk, sambil melihat pemandangan indah danau itu.

Kulirik dia. Tertangkap olehku dia sedang memandangiku. Lalu kutengok ke arahnya. Dan dengan sigap dia mengalihkan pandangannya. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya.

Ketika kami sudah terdiam cukup lama. Dia menyuruhku duduk disisinya. Aku tidak mau. Lalu, ia memindahkan helm yang kuletakkan di antara kami. Dia yang mendekat kepadaku. Aku berdiri, tapi ia meraih tanganku, dan memaksaku untuk duduk kembali. Dia merapat kepadaku, aku terus saja bergeser agar tidak duduk terlalu rapat dengannya. Sampai akhirnya aku menyerah saat aku sudah ada di ujung bangku.

Kami masih saja diam. Dia memegang tangan kiriku dengan kedua tangannya erat. "Kau senang sekali bukan?" akhirnya dia mengawali pembicaraan setelah lama hanya terdiam. "Ya begitulah.." jawabku. Lalu kami mulai berbicara tentang apapun. Bercanda, tertawa. Sambil sesekali karena kesal aku menggelitiki perutnya. Lalu ia membalas menggelitiki perut kecilku. Sungguh nyaman dan hangat saat itu.

Lama kami duduk bersama, bercanda ria, hingga tak sadar awan kelabu mulai turun pertanda akan hujan. Dia mengajakku untuk mencari tempat berteduh sebelum awan benar-benar berubah menjadi titik-titik hujan. Belum sampai kita menemukan tempat berteduh yang nyaman, titik-titik hujan sudah mulai berjatuhan. Dia melakujan motornya lebih kencang, tapi tetap dengan hati-hati karena jalan disekitar danau licin saat hujan.

Hujan semakin deras ketika kami mulai menemukan tempat yang nyaman. Kami akhirnya memilih sebuah warung makan lesehan. Dia memesan dua cangkir kopi susu hangat dan dua porsi makanan. Kelihatannya dia tau kalau aku sedang memang sedang lapar, karena saat itu memang sudah jam makan siangku. Sambil menunggu pesanan, kami melepas jaket yang agak basah karena hujan. Setelah pesanan kami datang, kami makan berdua sambil menunggu hujan reda. Selesai maka, ternyata hujan belum juga reda. Memaksa kami untuk tinggal sejenak.

Beberapa saat kemudian hujan sudah agak reda. Walaupun belum sepenuhnya reda, kami nekad untuk pulang. Kami takut hujan akan semakin deras lagi jika tidak segera pulang. Sebelum memuali perjalanan pulang, dia menawarkan aku untuk memakai jaketnya. Tapi aku tidak mau, karena aku tidak mau ia sakit karena kehujanan tanpa memakai jaket.

Sepanjang perjalanan turun, hujan perlahan-lahan mereda. Sungguh rasanya hari itu begitu sempurna. Sungguh nyaman dan penuh dengan kehangatan bersamanya. Sepertinya belum pernah kau merasa sehangat itu.

Sampai dirumah, aku turun dari motornya. Sebelum berpisah, dia berkata "Aku akan mengajakmu kesana lagi kapan-kapan. Aku janji..". "Baiklah, ku tunggu realisasi dari janjimu itu" sambil tersenyum ku menjawabnya. Lalu ia mulai meninggalkan halaman rumahku. Tapi, janjinya itu hingga kini belum juga terrealisasikan. Aku sibuk, begitupun dia. Kami serasa tenggelam dalam kesibukan kami masing-masing. Dan karena juga ada sedikit masalah menyebabkan kami susah untuk bertemu untuk saat-saat ini. Entah kapan, yang pasti aka ku tagih hutang janji itu. Entah esok, lusa, hari-hari atau bulan-bulan berikutnya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Song From You

Let it flow

Aku Suka Fajar Part II