Lagi-lagi Kamu
Sabtu
malam minggu 10 oktober 2015.
Mencoba
untuk move on itu sulit, semua orang tau itu.
Hai,
kamu. Apa kabar? Sudah berapa lama aku tak mendengar kabarmu? Nampaknya kamu
baik-baik saja. Tetep sehat dan bahagia ya. ;) Sebenernya aku pengeen banget
ketemu, tapi aku tau diri, bukan hak ku lagi untuk meminta waktumu. Lagi pula
sekarang kita jauh.
Aku
menulis ini untuk aku baca sendiri sebenarnya. Tapi kalau bisa aku ingin kau
juga membacanya. Karena seperti biasa, aku selalu tak tahan untuk menceritakan
semua hal padamu. Hehe. Oke aku mulai.
Sore
ini diajak aku main ke tempat kakak kelas. Itu baru pertama kali aku kesana.
Kakak kelasku sedang pergi jadi aku dan temanku menunggu. Tak ada yang
istimewa, hanya kontrakan biasa, ramai karena banyak cowok. Belum ada yang
terlihat “aneh” (read: mengesankan) sampai kakak kelasku tiba. Dia tiba bersama
seorang temannya (sebut saja D (hehe inisialnya sama denganmu, maaf)), awalnya
biasa saja, dan ketika D mulai ngobrol, DOOM! Rasanya aku ingin menangis. Kau
tau kenapa? Dia mirip sekali denganmu! Bukan secara fisik tapi gerak-gerik, dan
postur. Kau tau aku hafal sekali bagaimana khasnya dirimu. Caramu berjalan,
duduk, bicara, tertawa, bahasa tubuhmu, gerak tanganmu, mimik wajahmu, caramu
merokok, nyaris semuanya! Aku mengingat semua tentangmu hanya dengan melihatnya,
ketika semua itu nyaris aku lupakan. Aku tak tau harus sedih atau senang.
Setelah kita berpisah aku selalu bertanya apa aku akan menemukan seseorang
sepertimu. Dan sekarang aku menemukannya. Aku senang tapi aku sedih bahwa itu
bukanlah dirimu.
Aku
terus memperhatikannya, dan pikiranku terus melayang kepadamu. Malam hari aku
diantar dia pulang, aku dibonceng dia. Dan ketika itulah aku benar-benar merasa
seperti bersamamu. Caranya duduk dan menyetir, kata-katanya, gerak tangannya
ketika bercerita, topik-topik yang dia bicarakan, semuanyaaa!! Bahkan dia
menepuk dan mencubit lututku seperti yang biasa kau lakukan dulu! Kami
mengobrol sepanjang jalan untuk tetep nyambung sama dia nggak susah, itu seperti
ngobrol biasa sama kamu. Kami terus mengobrol padahal baru saja ketemu. Dan kau
tau, dia bilang padaku “Kamu bikin aku nggak konsen nyetir”! PERSIS seperti
yang selalu katakan “Aku nggak pernah bisa konsen nyetir kalo lagi sama kamu.”.
Saat itu aku ingin menangis, entah terharu, entah sedih karena mengingatmu,
tapi aku menahannya. Hal itu membuatku terus memikirkanmu saat sebelumnya aku
sudah mulai lupa. Aku merindukanmu! Lagi! L
Aku
harap kau membaca ini, hanya sekedar ingin kau tau bahwa semua tentang dirimu
telah melekat kuat, dan tak akan hilang. Kalau aku lupa, aku hanya lupa
menaruhnya dimana, bukannya hilang. Aku selalu ingat apa yang kau katakan,
bagaimana caramu memperlakukanku, bagaimana caramu bersikap, bagaimana jalan
pikiranmu. Aku akan ingat semua itu.
Sekarang
kau sudah tak tergapai, bahkan untuk sekedar melihat wajahmu saja terasa
seperti impian sekarang. Mungkin akan ada yang mengganti posisimu, tapi semua
tentangmu masih akan kusimpan rapi dan tak akan aku buang. Well, terimakasih ya
untuk selama ini. Tak habis rasa syukur ku karena telah dipertemukan denganmu. Walaupun
jika waktu dapat diputar, aku memilih untuk tidak bertemu denganmu, supaya kita
sama-sama tak merasakan sakit seperti ini. Thanks a lot! Keep healthy and
strong ya, God bless you. Aammiin. :)
Komentar
Posting Komentar