Surat di Persimpangan



Ketika saya menulis ini, suara lembut David Cook dalam  “Always be My Baby”, Mocca dalam “I remember” melatari saya. Baik, saya mulai.

Hai, Hallo. 
Apa kabar tuan? Sudah berapa lama sejak tuan menjalani perjalanan yang benar-benar baru? Sudah berapa lama saya diam terpaku dipersimpangan jalan melihat punggung tuan jadi bayang-bayang yang bergerak menjauh? Rasanya sudah lama sekali tak melihat matamu yang sehangat matahari terbit itu. Aku tidak akan bertanya bagaimana perjalanan tuan  sekarang. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa saya juga sudah mulai melangkah lagi, meneruskan perjalananku sendiri. Kita berbeda jalan sekarang, how strange it is when u’r not by my side anymore :’). 
Tuan, karena jalan kita berbeda, maka apa yang tuan lihat, dengar, dan temui  tentulah berbeda dengan saya. Jadi, jikalau suatu saat jalan kita bermuara pada sebuah pertemuan, mari saling bertukar cerita. Saya ingin mendengarnya sambil menikmati secangkir kopi di sebuah kedai di sudut kota. Bolehkah? Juga Tak lupa saya selalu berpesan, hati-hati di jalan, jangan mudah pata semangat, jangan menyerah! Saya menantikan cerita-cerita petualangan tuan.

                                                                                          Salam rindu dan hangat,
 
                                                                                          Puan di Kota Hujan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Song From You

Let it flow

Aku Suka Fajar Part II